Opini

Kamis 16 Juli 2026 | 12:34 WIB

Laporan: Zaki Zainal Arifin S.S., M.Pd Dosen Universitas Pamulang

Bahasa Inggris dan Generasi Z: Antara Peluang Global dan Pergeseran Nilai Berbahasa

Zaki Zainal Arifin

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara Generasi Z memperoleh dan menggunakan bahasa. Jika pada masa lalu bahasa Inggris identik dengan lingkungan akademik, dunia kerja, atau komunikasi formal, kini bahasa tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Media sosial, film, musik, gim daring, hingga berbagai platform digital menjadikan bahasa Inggris hadir dalam ruang interaksi yang sangat dekat dengan generasi muda. Perubahan ini membawa berbagai dampak positif, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan tantangan terhadap penggunaan bahasa Indonesia.

Pada awalnya, penguasaan bahasa Inggris dipandang sebagai keterampilan formal yang hanya dimiliki oleh kelompok tertentu, seperti mahasiswa, akademisi, atau profesional. Kemampuan berbahasa Inggris menjadi simbol kompetensi untuk mengakses ilmu pengetahuan internasional, memperluas kesempatan kerja, dan membangun komunikasi lintas negara. Dalam konteks globalisasi, bahasa Inggris berperan sebagai lingua franca yang memungkinkan seseorang berinteraksi dengan masyarakat dunia tanpa dibatasi oleh perbedaan bahasa nasional. Oleh karena itu, meningkatnya kemampuan bahasa Inggris masyarakat Indonesia merupakan perkembangan yang patut diapresiasi karena mendukung daya saing bangsa di tingkat internasional.

Namun, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola pemerolehan bahasa tersebut. Jika dahulu seseorang harus mengikuti kursus atau belajar melalui buku-buku berbahasa Inggris, kini anak-anak dan remaja dapat mempelajarinya secara alami melalui film, serial televisi, YouTube, TikTok, gim daring, maupun media sosial lainnya. Paparan bahasa Inggris yang terjadi setiap hari membuat banyak kosakata, ungkapan, bahkan pelafalan lebih mudah dipahami tanpa proses pembelajaran formal. Fenomena ini menunjukkan bahwa lingkungan digital telah menjadi ruang belajar bahasa yang sangat efektif.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa Generasi Z cenderung lebih akrab dengan bahasa Inggris dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tidak hanya memahami kosakata, tetapi juga terbiasa menggunakan istilah seperti random, literally, cringe, relate, challenge, atau update dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan istilah-istilah tersebut sering kali dianggap lebih praktis dan mengikuti tren komunikasi global. Dari perspektif sosiolinguistik, hal ini merupakan bentuk adaptasi bahasa terhadap perkembangan budaya digital dan interaksi lintas negara.

Meskipun demikian, meningkatnya penggunaan bahasa Inggris juga perlu disikapi secara bijaksana. Penggunaan bahasa asing secara berlebihan tanpa mempertimbangkan konteks dapat menggeser kebanggaan terhadap bahasa Indonesia. Tidak sedikit generasi muda yang merasa lebih percaya diri menggunakan istilah bahasa Inggris dibandingkan padanan bahasa Indonesianya, bahkan ketika berkomunikasi dengan sesama penutur bahasa Indonesia. Apabila kecenderungan ini terus berkembang tanpa adanya kesadaran berbahasa, maka bahasa Indonesia berpotensi mengalami pergeseran fungsi dalam ruang-ruang komunikasi tertentu.

Oleh karena itu, penguasaan bahasa Inggris seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman terhadap bahasa Indonesia, melainkan sebagai kompetensi tambahan yang memperkuat kemampuan komunikasi masyarakat Indonesia di era global. Tantangan terbesar bukanlah memilih salah satu bahasa, tetapi menempatkan keduanya sesuai dengan fungsi dan konteks penggunaannya. Bahasa Indonesia tetap menjadi identitas nasional dan bahasa pemersatu, sedangkan bahasa Inggris menjadi sarana untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi internasional.

Pada akhirnya, Generasi Z merupakan generasi yang memiliki peluang besar untuk menjadi masyarakat bilingual bahkan multilingual. Dengan kemampuan memanfaatkan bahasa Indonesia secara baik dan benar serta menguasai bahasa Inggris secara proporsional, mereka akan lebih siap menghadapi persaingan global tanpa kehilangan identitas kebahasaan sebagai bangsa Indonesia. Inilah keseimbangan yang perlu dibangun dalam era digital: menguasai bahasa dunia tanpa melupakan bahasa sendiri.

Comment